Usaha pembesaran ayam kampung pedaging
Pendahuluan
ayam kampung pedagingApakah bisnis ayam kampung menguntungkan? Pertanyaan yang sering muncul dan dikemukakan orang yang ingin terjun dalam bisnis ayam. Pertanyaan yang wajar diutarakan sebelum ditentukan pilihan bisnis yang akan ditekuni. Bila menguntungkan maka bisnis ayam akan memacu seseorang untuk mencobanya. Sebaliknya, bila kurang menguntungkan, tentu saja orang akan berpikir lagi untuk mencobanya.
Pada dasarnya budi daya ayam bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat. Sejak zaman dahulu masyarakat sudah mengenalnya, terutama ayam kampung. Teknis pembudidayaan merupakan pengetahuan yang ditularkan secara turun temurun. Tujuannya untuk konsumsi keluarga dan dipanen pada saat-saat tertentu, seperti hari raya atau selamatan, sehingga belum berorientasi pada pasar. Produk yang dihasilkannya pun masih terbatas pada daging dan telur.
Tujuan Usaha
1. Untuk tetap melestarikan keberadaan ayam kampung dengan cara intensifikasi ayam kampung
2. Untuk membuka ladang bisnis baru di bidang perunggasan sehingga mampu bersaing dengan produk jenis unggas yang sudah lama ada seperti ayam pedaging dan ayam petelur
3. Untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi peternak
4. Untuk mengangkat perekonomian masyarakat pada umumnya
Berikut disajikan contoh analisis usaha ayam buras pedaging :
Biaya Usaha :
No
Keterangan
Jumlah
Pendapatan Usaha :
* Diperkirakan umur 2,5 bulan laku minimal Rp 12.000,-/ekor dengan angka kematian sebesar 10% (10 ekor), maka : 90 ekor x @ Rp 12.000,- = Rp 1.080.000,-
Laba Usaha
Laba Usaha diperoleh dari pendapatan – biaya, maka :
(Rp 1.080.000,-) – (834.000,-) = Rp 246.000,-
catatan:
Laba usaha bisa semakin meningkat dengan menekan biaya pakan dan mempertinggi harga jual.
ANALISA KELAYAKAN USAHA :
BEP (break even point)
Total biaya 834.000
BEP volume produksi = ——————- = ———– = 69,5
Harga jual produk 12.000
Total biaya 834.000
BEP untuk harga produksi = ——————- = ———– = 8.340
Total produksi 100
Titik impas usaha tercapai jika harga jual per ekor adalah Rp 8.340,- atau jumlah produksi mencapai 69 - 70 ekor.
R/C (return cost ratio)
Total penerimaan 1.080.000
R/C = ——————- = ———– = 1,29
Total biaya 834.000
Dengan nilai R/C 1,29 berarti usaha ini dinilai layak untuk dilakukan. Setiap penambahan biaya biaya Rp 1,00 akan memperoleh penerimaan Rp 1.29
B/C Rasio
Total keuntungan 246.000
R/C = ——————- = ———- = 0,29
Total biaya 834.000
Nilai B/C > 0, berarti usaha ini layak dan dapat memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp 0,29 dari setiap penambahan biaya Rp 1,-. keuntungan mencapai 29% dari biaya yang dikeluarkan *(SPt)
Tips untuk mendapatkan keuntungan berlebih :
1. Untuk menekan biaya pakan, bisa kita menyusun sendiri ransum. Anda bisa membeli CD program penyusunan ransum atau membeli buku panduan menyusun ransum ternak
2. Harga DOC bisa didapatkan dengan harga lebih rendah dengan cara menetaskan telur sendiri. Anda bisa melihat artikel di www.sentralternak.com tentang analisa usaha penetasan telur
3. Waktu panen diusahakan hari-hari bermomen penting seperti hari perayaan agama, liburan, musim hajatan atau lainnya.
4. Menekan angka kematian dengan cara pemeliharaan yang lebih intensif. Angka kematian masih dianggap baik apabila berkisar antara 5-10%.
sumber : www.sentralternak.com